Senin, 12 Agustus 2013

Namaku Felani (Mozaik 1)

Matahari bersinar begitu mesranya, tetes-tetes embun yang membasahi jalan setapak sawah terasa menyegarkan, capung beraneka warna menari bebas diantara tanaman padi yang menghijau, asap yang mengepul dari sisa pembakaran sekam padi yang baru saja dipanen oleh pemiliknya, riuh-rendah bunyi kokok ayam, kiranya begitu yang bisa menggambarkan suasana di pedasaan, ya aroma khas di kampung halamanku. Di salah satu pulau yang teramat istimewa, karena kekhasan budaya dan kearifan lokal penduduknya. Tak perlu kusebutkan dimana lokasi tepatnya aku tinggal, yang jelas kau pasti tahu jika kubocorkan sedikit saja clue-nya, pulau dengan eksotika luar biasa, bahasa dan logatnya sangat khas,  pulau penghasil garam, ajang karapan sapi, pulau dengan jembatan terpanjang se Asia Tenggara. Aku yakin, sekarang kau pasti sudah tahu pulau apa yang ku maksud. Namaku Felani, aku anak kedua dari dua bersaudara, usiaku sudah 21 tahun, baru saja berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya, well sekarang aku sedang menikmati liburan panjang semester genap sekaligus liburan hari raya idul fitri yang sudah memasuki H+7. Liburan selalu saja menjadi momen yang menyenangkan sekaligus membosankan. Menyenangkan karena bisa sedikit istirahat dari aktivitas perkuliahan, tugas, dan organisasi intra kampus di Surabaya sekaligus bisa melepas kerinduan dengan orang-orang tercinta di kampung Halaman dan tentu saja menikmati aroma khas pedesaan yang tak akan mungkin kurasakan saat kembali ke kota rantauan tempatku belajar, Surabaya. 
Sedikit membosankan kerap kali aku rasakan, karena seharian penuh di rumah  tidak ada aktivitas sama sekali, ribet nge-baby sit ponakan, dan tentu saja terpaku menatap laptop untuk sekadar mengecek nilai ujian yang mungkin saja muncul di web kampus, atau mengecek sosial media untuk mengetahui kabar perkembangan di luar sana, ya internet, tiada hari tanpa berselancar di dunia maya. Sebenarnya tidak bosan-bosan amat, hanya saja sudah mulai merindukan kampus. Ah, rindu kampus..masa sih? Dasar memang mahasiswa, kalau sudah di kampus rindu kampung halaman, tapi jika sudah di kampung halaman ngotot rindu kampus. Mungkin jika ada,  pintu ajaib Doraemon menjadi barang yang paling banyak dicari dan dan di beli oleh mahasiswa..hihi. 
"An, Aan, dimana kamu An?" suara si emak mengagetkan aku yang terpaku di depan laptop. "iyaa, mak. kenapa?. jawab aku sambil tergopoh-gopoh. Aan, adalah nama kecilku di kampung halaman, jadi jangan heran jika hendak mencariku saat di kampung halaman, jangan pernah coba bertanya yang namanya Felani , Fela atau Fe seperti panggilan teman-temanku di kampus. Karena dijamin orang sekampung pasti kebingungan dan ujung-ujungnya kau pasti di kira salah alamat. Tanya saja Aan putri pak Rahmat dan  bu Rodiyah, maka kau pasti akan diantarkan tepat di depan pintu rumahku. 
"An, emak mau menggiling padi ke sellip bu Nasar, mbakmu sudah berangkat kerja tadi pagi, titip si kecil Salsa ya, Jangan di buat nangis atau jatuh ya?" pinta emak padaku. "Iya emak, jangan lama-lama ya." Kataku memyanggupi perintah emak untuk menjaga ponakanku tersayang dk Salsa. Salsa, balita lucu-cerdas-nan menggemaskan yang baru berumur 20 bulan ini, menjadi salah satu orang yang paling kurindukan saat di Surabaya. Di usianya yang akan memasuki angka 2 tahun ini, kemampuan motorik-nya luar biasa berkembang sampai bisa di bilang balita super hiperaktif. Bagaimana tidak dalam sehari 24 jam, hampir setengah dari waktu efektifnya digunakan untuk bermain, berlari, naik-turun kursi, melompat, kadang juga berteriak sambil menangis jika keinginannya tidak terpenuhi. Kosa katanya pun juga sudah banyak, pandai menirukan kata-kata orang lain. Tapi, aku kira perkembangan dk Salsa itu wajar dan memang sudah sebagaimana mestinya seperti yang dijelaskan dalam satu modul perkuliahan materi kuliah gizi yang berjudul " Pertumbuhan dan perkembangan anak". Jadi, dek Salsa tergolong balita yang pertumbuhannya baik. Atau dalam psikologi anak juga dikenal sebagai the golden period of age 2
Aku jadi ngebayangin, andai saja di usia emasnya ini dk Salsa bisa diarahkan dan didik untuk melakukan hal-hal yang baik, pasti akan menjadi bekal yang baik untuk karakternya di masa depan. Aku pun tidak bisa berperan banyak. Peran pembentukan karakter terutama ada pada si ibu. Tapi, sayang si ibu Salsa alias mbakku sibuk bekerja, jadi praktis pengasuhan sepenuhnya di waktu pagi sampai sore hari ada di tangan emakku. Sedangkan mbakku hanya sore saja menjaga anaknya, selebihnya saat malam pun dk Salsa tidur sama emakku. Jadi, dek Salsa berkembang sebagaimana lingkungan dan karakter orang-orang disekitarnya. Kadang Embahku juga ikut-ikutan bantuin jaga dk Salsa. Nah, kalau libur kuliah gini apalagi liburan panjang, saat pulang ke kampung Halaman aku lah yang kebagian membantu emak untuk menjaga dk Salsa. Mulai dari memandikan, menyuapi makanan, menemani bermain, menidurkan, sampai terbangun dan bermain lagi. Persis baby sitter, tak apalah sekalian kursus gratis menjadi ibu..hehe. 

Unnie,(korea. red) adalah panggilan sayangku untuk dk Salsa, aku sayang banget sama dia sama seperti rasa sayangku sdengan Oppa ( korea.red) Akbar, kakak dari Salsa yang berumur 5 tahun. Bagaimana pun aku sayang banget sama kedua ponakanku ini, karena mereka-lah temanku berlibur saat di kampung halaman. Jujur saja, aku tak terlalu paham psikologi anak, aku pun tak pernah ikut macam seminar parenting atau apalah, jadi saat menjaga dk Salsa aku hanya bisa bersabar dan mengajarinya kebaikan semampu yang aku bisa. Walau sebenarrnya, aku juga tipe tante yang kurang telaten dan sedikit jahil. Misalnya, dk Salsa suka sekali bermain petak umpet? Well,  ini aku juga yang mengajarinya. Kalau sedang berpetak umpet gini, biasanya aku suka ngumpet yang agak susah untuk dicari, seneng pas lihat dk Salsa kebingungan  saat mencari aku.  What? iya...hehe. Dari sekian orang di kampungku yang memanggilku Fela ya hanya dk Salsa ini, maklumlah aku sendiri yang mengajarinya. Walau agak cadel bicaranya " Tanto Pela ( Tante Fela. Red)", ya begitulah dk Salsa kecil ini memanggilku.
                                                                   
                                                             --***--


Tidak ada komentar:

Posting Komentar