Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati NDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati NDA. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2015

“MENIKAH: Bukan Persoalan Cinta!!!”



Assalamu’alaykum Wr. Wb

Apa kabar halaman blog-ku? Semoga kau tak berdebu apalagi usang termakan waktu, karena aku jarang menjumpaimu dan berceloteh padamu tentang apa saja, ah tapi kau masih sama menjadi halaman terbaik untuk membagi semua kisah-kisahku. Sebetulnya, banyak banget loh kisah yg belum aku bagi sama kamu di penghujung 2014 kemarin seperti: momen wisuda, menariknya jadi surveyor (ntar aku buat tulisan sendiri deh judulnya “survivor of surveyor”..hehe), sampai yang terbaru kisah Vii jadi sekretaris di klinik, ah a bunch of stories lah pokoknya, ntar aku bagi deh disini, tapi kali ini Vii lagi pengen nulis tema sensitive yes, about love and marriage… #upss
Vii lagi gak galau ya blog, cuma galau banget..hehe, ah ngak2 becanda koq. cuma pengen nulis yang beda aja, kali ini kamu pasti protes my blog (kalau bisa ngomong pasti kamu bakal ngomong gini, “apanya vii pengen nulis yang beda, kayaknya kamu udah keseringan deh nulis tema2 gini). Ahaha, sabar ya my dear blog…. :P

Kembali ke tema, “Menikah: Bukan Persoalan Cinta”. Percaya atau tidak sebetulnya tidak ada korelasi atau hubungan yang signifikan antara jatuh cinta dan menikah (serius Vii???, udah dibuktikan dengan statistik belum?, pake uji apa? Chi-square atau spearman atau Pearson? Signifikan pada alfa berapa?.. hehe kayak skripsi aja J..well, walaupun mungkin belum ada penelitian ilmiah tentang hubungan antara jatuh cinta dan menikah, I just wanna declare my self kalau yang namanya menikah itu, gak perlu koq harus jatuh cinta dulu sebelumnya, lalu melewati serangkaian pacaran yang katanya sih ajang “ta’aruf” tapi lama bangett sampe bertahun-tahun, #upss sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk menikah (tengok, kanan-kiri, takut ada yg lempar sandal gara2 Vii nulis gini, but well Vii gak lagi nyinggung siapa2 ya, tapi kalo ada yang tersinggung maaf deh #eh, tulisan ini cuma murni buat NGINGETIN DIRI aja biar gak galau masalah cinta dan biar bisa tetap komitmen utk menjaga prinsip karena-Nya…aamiin). Prinsip apaan Vii? Ya, itu tuh jadi mawar berduri, tapi gak untuk melukai loh ya…hehe #LOL
Walaupun kenyataannya nih blog, gak dapat dipungkiri cinta kebanyakan menjadi alasan orang untuk menikah, ya gpp sih gak ada yg salah sama yang namanya cinta, kan fitrah selama masih dalam batas-batas dan gak melanggar koridor-Nya, malah bagus dong kalo akhirnya bisa menikah sama yang dicintai dan dirindui selama ini, like a medicine to cure hurt kan alias kayak obat bagi yang lagi “sakit” karena cinta…#aish2, curhat bu’??
Nah, ini justru yang menjadi problematika saat ini, kadang msih kabur loh antara cinta atau sekedar nafsu sehingga fenomena2 kayak pacaran baik yang nyata maupun “terselubung” mengatasnamakan “ta’aruf” masih kerap terjadi, yups ber-sms-an atau ber-chatting ria padahal gak ada kepentingan syar’i T.T apalagi pelakunya loh nyadar kalau itu berpotensi penyakit hati. (Istighfar ukh, istighfar). Selain itu, cobaan cinta dalam diam juga tak kalah hebat menyakitkannya, gak ada yg ngerti, gak ada yang tau, tak terbaca, tak tersampaikan kadang bisanya cuma nangis2 sendiri tapi gak sampai #nyakar2 tembok loh ya, #alaay kumaat…:P apalagi kalo si dia akhirnya malah nikah sama orang lain, padahal yg selama ini jelas2 ngarep.com dan usaha diam2 kita.. #loh koq?? maksudnya stalking dan kepo di sosmednya, haha dasaar. Terus tahu kenyataan dia nikah sama orang lain pada sedih tuh sampai guling2 di kasur #lanjut tidur maksudnya, haha. Hayoo ada yang ngerasa?? Atau yang nulis juga ngerasa? Ah, enggak ya… enggak salah maksudnya.. #just kidding..hehe :P
Well2, back to the theme… nah itu dia sekali lagi, gak ada yang salah dengan yang namanya mencintai hanya kita perlu berjalan dalam koridor-Nya dan cintailah atau bencilah sewajarnya saja, seperti kata sayyidini Ali Bin Abi Thalib kan, jadi gak perlu tuh acara sakit hati yang berlebihan apalagi nangis sampai air matanya se-ember gara2 gak jadi nikah sama dia, maklum namanya juga belum berjodoh dan bukan dia yg tertulis di lauh mahfudz, terus siapa? Tau dah.. sabar aja dah jeung :P. well, dalam fase ini justru ada hikmahnya karena kita belajar untuk merelakan dan mengikhlaskan, bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya… J

Sekali lagi, menikah itu bukan persoalan cinta tapi soal memantaskan diri, bukan pula persoalan siapa dia tapi persoalan bagaimana dia. Menikah juga bukan persoalan you are belong to me atau i am belong to you, tapi persoalan membangun peradaban untuk mencetak generasi-generasi yang akan memberatkan bumi dengan kalimatullah. So, dalam masa “masih” sendiri gak usah deh galau2 apalagi meratap-ratap hanya karena persoalan cinta, yang terpenting sekarang lakukan yang terbaik apa yang bisa kamu lakukan, bahagiain-nyenengin alias berbakti pada ibu-bapak dulu, jadilah yang sholihah untuk mereka (red: birrul walidain) sebelum sholihah untuk yang lain.. #upss (Ingat BAPAK, jadi ingat rencana S2… SEJAUH apakah persiapan saya atau belum sama sekali karena masih ke-ENAK-an kerja…haha #ntar, bahas di tema lain ya ciin)


EPILOG
Karena menikah sekali lagi bukan persoalan cinta, maka upaya untuk menyongsongnya hanya perlu dengan pemahaman dan kesiapan.. Pemahaman bahwa menikah adalah perkara ibadah, maka ia perlu dipersiapkan dengan ilmu, niat yang suci lillahi ta’ala, dan tentu saja kesiapan mental, fisik serta satu hal yang harus diingat bahwa pernikahan itu suci maka prosesnya juga harus se-suci itu J
Sebagai seorang cewek, wanita, muslimah atau akhwat ikhtiar kita dalam menjemput jodoh sederhana saja koq cukup Sabar-berdoa “minta sama Yang Maha Kuasa” dan senantiasa memperbaiki diri karena-NYA bukan karena jodoh…#hati2 niatnya, haha

Dear my lovely blog, udah dulu ya besok masuk kerja nih, ntar kapan2 tak nulis alias curcol lagi disini...

Buat teman2 yang baca, boleh ninggalin komen ya…hehe J

Thx u… Wassalamu’alaykum Wr. Wb 

Jumat, 11 Juli 2014

Maaf, Ayah....



"Barakallahu lakuma wa jama'ah baynakuma fii khoir...
Semoga bisa membentuk keluarga yang sakinah-mawaddah-warohmah-wa dakwah saudariku..."

Sekali lagi kutatap undangan berwarna merah jambu itu, ya tidak salah lagi... kau hebat saudariku, kau berani mengambil keputusan di saat kebanyakan teman2 yang seusia denganmu lebih memilih fokus dan berkutat seputar akademik, kau memilih selangkah lebih maju menyempurnakan separuh dien-mu. Dan aku masih tersenyum getir tapi juga bahagia seakan tak percaya, bagaimana kau bisa mengambil keputusan se berani dan sehebat itu? 
Ah, kupikir tidak ada yang aneh dengan pilihanmu, karena itu sangat wajar untuk usia-usia seperti ini. Bahkan mungkin rentang usia 21-25 adalah cukup ideal bagi seorang perempuan untuk menikah. Kau seusia denganku 22 tahun, usia yang manis bukan tapi pilihan kita jauh berbeda. Kau mantap melangkah ke jenjang pernikahan, hebat saudariku.. sementara aku masih saja ragu, takut, tidak fokus, dan mulai gelisah. 
Ah, Gelisah? kenapa memangnya? 
Ok, mari kita runut penyebab kegelisahan itu?
1. IPK turun?
2. Gak lolos lomba karya tulis?
3. Kalah lomba debat bahasa inggris?
4. Toeflmu gak lolos lagi?
5. Kalah saing untuk jadi calon wisudawan terbaik?
6. Envy sama prestasi teman?
7. Rempong jadi ketua panitia seminar?
8. Kadep organisasi yg sok sibuk?
9. Jarang pulkam? Kangen bapak-ibu?
10. Skripsi gak kelar2?
11. Dimarahi dosen pembimbing?
12. dsb..,

Ah, aku rasa poin penyebab kegelisahan 1-12 itu aku sudah kebal, malah tidak terlalu gelisah...lalu kenapa?
aku teringat sebuah buku yg tak sengaja kubaca di salah satu toko buku di Surabaya. Pada halaman belakang tertulis:
"Bila canda-tawa teman sudah tidak bisa menyenangkan hati... maka sudah saatnya menikah"
"Bila perhatian ayah-ibu sudah tidak cukup menentramkan hati...maka sudah saatnya menikah"
"Bila kau tidak bisa menjawab semua kata bila itu...maka sudah saatnya menikah"

Malam semakin larut, kemudian ayah dan datang lalu bertanya "sudah tidur, jangan di forsir mengerjakan skripsi terus"
"maaf ayah, kali ini aq sedang menulis bukan megerjakan skripsi"

ya Allah, maaf Ayah....
apa aku sudah menghianati ayah, untuk terus menjadi putri kebanggannya yg handal dalam akademik, sedikit pun Ayah tiada pernah lelah menyayangi dan memberikan yang terbaik...
Hanya saja ayah, maaf aku bukan lagi putri kecilmu yang dulu
Maaf ayah, jika aku mulai merindukan yang lain namun aku tak tahu siapa yang aku rindukan
Ingin aku renyah bercerita semua isi hatiku padamu seperti di masa kecil dulu yg begitu renyahnya aku menceritakan nilai hasil ulangan harianku, saat nilainya jelek maka kau akan mengajariku untuk memperbaikinya diujian selanjutnya..
Tapi, kali ini aku begitu malu, bibirku begitu kelu Ayah untuk sekedar bilang "Ayah, aku mencintai seseorang" atau "Ayah, ada yang ingin meminangku, bagaimana seharusnya?". Padahal betapa inginnya aku menjadikan engkau ayah yang pertama kali kuceritakan dan kujadikan tempat bercurah hati saat kegelisahan itu datang..

tapi Ayah, aku tidak tahu harus memulainya darimana.. karena aku sudah berkesimpulan dari sikapmu yang tak pernah sedikit saja menyinggung persoalan itu padahal banyak yang tersimpan di hati ini..
karena perbincangan kita soal masa depanku masih terhenti di: segera cari kerja setelah lulus nanti ya Nak, kamu anak ayah yg palin pintar jadi mudah bagimu untuk peroleh pekerjaan yang baik. Kamu harus jadi PNS sekaligus dosen. Cari beasiswa S-2, kalaupun tak dapat ayah masih sanggup membiayaimu hingga S-2.

Dan aku dengan nada bangga sekaligus percaya diri menjawab "Pastinya ayah, doain ya biar bisa dapet S-2 ke luar negeri". aku tahu ayah bersikap seperti itu, karena aku selalu menunjukkan diriku yang smart selalu di depan ayah padahal ayah tiada pernah tahu betapa putri kecil kebanggannya kini juga menyimpan rahasia hati yg berbeda sekali dengan tampilan luar.

maka ayah, aku tidak tahu bagaimana harus memulainya..ya Allah, sungguh aku tak sanggup menyampaikannya pada ayah, hanya padaMu ku berharap sampaikanlah rasa hati ini pada Ayah...

Dan Ayah sungguh ketika aku telah menikah nanti, kau tetap lelaki pertama yang akan tetap dan selalu kucintai dalam hidupku..

T.T

#ditulis di tengah kegelisahan penyelesaian skripsi dan kerisauan hati

Kamis, 10 Juli 2014

Bila akhirnya aku harus jatuh cinta, tolong pegangi Hatiku ya Rabb...


Ada apa dengan judul tulisanmu ukhti?? Tidak biasa2-nya?
Atau kau sudah tak sanggup menyembunyikannya lagi? Dimana rasa malu-mu dan akhlaq indahmu yang selalu berhasil menjadi tabir antara kau dan perasaanmu?
Ah, Galau-kah dirimu?
Tak malukah kau dengan predikat "ukhti" yang kau sandang? Atau jilbab lebarmu itu yang senantiasa melindungimu?
Tapi aku tahu, kau tetap saja manusia, ya akhwat pun bisa jatuh cinta, jatuh namun jangan sampai terhuyung-huyung...
Cinta adalah fitrah, dan cinta tak melulu harus pada "seseorang" dan bila mungkin tak sengaja ada rasa itu, tempatkanlah ia pada titik keimanan tanpa perlu diungkapkan atau si "dia" tahu.. Teruslah bungkam dan diam menyembunyikan rasa itu cukup engkau dan Allah saja yang tahu....hingga bila ia memang Allah takdirkan untukmu, biarlah Allah yang membuatnya indah pada saatnya..
Sakit? Mengganggu pikiran? Bahkan sampai harus terpecah konsentrasimu saat mengerjakan tugas akhir?
Itulah cobaan keimanan ukhti, pertebal dan perkuat imanmu,,mendekat dan mohonlah pada-Nya
Bila kau punya cinta yg lebih ungkapkanlah pada ayah dan ibumu merekalah yang jelas-jelas tulus mencintaimu...

Wahai hati bersabarlah yaa...
Wahai diri, tunduklah pada-Nya
ya Robb, ampunkanlah dosa hamba bila mungkin pernah ada rasa pada seseorang yang belum tentu kau tuliskan di lauh-mahfudz untukku
ya Robb, sungguh aku tak kuasa mencegah rasa ini hadir begitu saja.. sehari, sebulan, setahun bahkan lebih dalam diam.. Bila ia memang ditakdirkan untukku biarlah rasa ini menjadi nyata seperti kisah Fatimah Azzahra dan Ali Bin Abi Thalib... Namun bila ia bukan ditakdirkan untukku, aku percaya Engkau akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, maka hapuskanlah rasa cinta dalam diamku ini..

Ukhti, teruslah memperbaiki diri karena itulah satu2-nya ikhtiarmu untuk menanti pangeran terbaikmu
Sibukkanlah untuk senantiasa dalam kebaikan dan menebar kebaikan
Sayangi dan berbaktilah pada ibu-bapakmu jadilah putri yang sholihah untuk mereka sebelum kau menjadi sholihah untuk yang lain nantinya
Ukhti, selesaikan tugas akhirmu ya, jangan galau lagi, buktikan dan buat bangga bapak-ibu yang teramat menyayangimu mereka sangat menunggu kamu diwisuda dan dapat gelar sarjana loh...
ukhti, sudah2 back to skripsi ya jangan blogging terus...xixixix ;D

Jumat, 03 Januari 2014

Secercah Harapan...


Aku tak kan menyerah, hanya karena tidak mudah...

Aku tak kan menyerah, hanya karena lelah...

Aku tak kan menyerah, hanya karena setitik rasa "malas" ini, aku harus melawannya, ya aq harus melawannya....

Bukankah kita hanya butuh kesunggguhan, keyakinan, dan do'a pada-Nya...bahwa kesuksesan adalah didepan mata saat kita benar-benar mengupayakannya....

Maka tiada alasan sedikitpun untukku mengeluh akan semua ini, percayalah dengan berproses sebaik-baiknya, maka DIA akan memberikan yang terbaik pula...

Wahai Dzat yang senantiasa terjaga Allahu Rabbul A'lamiin, berikanlah hamba secercah cahaya di hati ini sehingga tiada lagi kesombongan, kedengkian, apalagi keputusasaan untuk meraih rahmat-Mu....
ya Rabb, mudahkanlah segala urusan hamba di dunia dan akhirat... Aamiin ya Robbal Aalamiin

ya Allah, ini hanya untuk-Mu..Saksikanlah...

La Tahzan Wahai Hati....



Hujan mengguyur deras, sederas hati yang menangis...
Sisa tetesan air hujan yang lalu-pun telah sedikit mengering tertimpa hawa dan udara sore hari...
Tapi hati ini sungguh masih gerimis, walau tak segerimis awalnya
Karena tetes air wudhu', sholat, dan lantunan ayat suci sejenak menghapus gerimis itu...
Dan hanya keikhlasan dan Tawakkal pada-Nya yang akan benar-benar menyeka gerimis itu...
Perlu proses memang, apalagi untuk seseorang yang masih belajar...

Teringat kata seorang kawan "Jangan tampakkan hatimu akan dirimu, Tersenyumlah walau hatimu tak seindah senyum manismu"...
Hati ini boleh saja menangis sejadi-jadinya dan biarlah waktu bersama keikhlasan yang akan menyeka gerimis itu sedikit demi sedikit...
Namun diri ini harus selalu tersenyum dan membiaskan kebahagiaan dengan siapa saja yang berada disekitarnya...

Dan disaat hati ini mulai lelah, maka hanya pada-Mu ya Rabb kusandarkan hati ini...
Tetap Semangat..
Menebar energi positif senyum dan Percayalah kelak Hatimu pasti akan tersenyum....

La Tahzan Wahai Hati, Innallaha ma'ana....



Minggu, 26 Mei 2013

Ketika Hujan Menyapa Hatiku....

Dan Hujan

27 mei 2013 (12.21 pm)

 Aku ingin menangis dalam hujan, agar tak ada seorangpun yang tahu bahwa aku sedang menangis, agar tidak ada yang tahu bahwa hatiku sedang perih kecuali Dia, karena memang tidak ada yang mampu kututupi barang sekecil apapun dari-Nya, termasuk isi hati ini. Hujan, sudah 2 kali pagi dan siang ini aku menembus hujan, percikannya yang luar biasa seperti menampar-nampar wajahku, riak hujan pagi dan siang ini seolah berkata padaku:  ("Kau, harus bangkit Vita!, Kau Harus Semangat, Kau harus Menemukan jati dirimu, Ingat perjuanganmu, Ingat wajah ayah-ibu mu yang begitu berharap padamu, Fokus Vita pada mimpi dan cita-citamu itu, Ingat kembali Vita, Apa, bagaimana, dan untuk siapa semua pengorbanmu?").

Kau tahu kawan? Apa yang paling menyakitkan di dunia ini? yaitu, ketika kita tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya kita inginkan, apa yg sebenarnya kita butuhkan, dan apa yang membuat kita bisa bahagia dalam melakukan sesuatu. Seperti detik ini, ketika aku dulu berkata sulit bagiku untuk menulis, tapi jujur aku lepas saat melakukannya. Jika kuingat dulu, banyak hal yang kulakukan tanpa kutahu apa aku menikmatinya atau tidak? Terlalu disayangkan, bila banyak peristiwa yang harus kulalui begitu saja tanpa makna dan tanpa hati.

Lalu apa sebenarnya yang aku inginkan?
Pertanyaan ini kembali berputar-putar di otakku, saat kembali menghadapi kenyataan bahwa hari jum'at depan adalah saatnya bagi mahasiswa semester 6 untuk mengumpulkan peminatan sebagai dasar dalam pembuatan skripsi.  Memang, peminatan tidak terlalu banyak pengaruhya dengan pekerjaan nanti. Tapi tetap saja aku bingung untuk memilih. Pada siapa aku harus mengadu? Ketika semua orang tidak tahu bagaimana isi hatiku? Dan bahkan, aku pun masih bertanya pada hatiku apa yang sebenarnya aku inginkan. Rintik-rintik  hujan yang masih terdengar di balik jendala seolah kembali berbisik lembut padaku:
Sudakah engkau bertanya pada-Nya? Dalam hati aku menjawab dan kali ini kujawab sekenanya dengan sisa kejujuran yang ada, Aku belum sepenuhnya bertanya pada-Nya. Lalu hujan itu kembali bertanya bertubi-tubi padaku:
Benarkah engkau sudah meletakkan Dia diatas segala-galanya? Apa engkau tak lebih dari seorang yang munafik? Apa yang kau cari nak, apa? Aku sedih melihatmu dan hujan ini adalah kesedihanku. Aku sedih karena ternyata kau jauh dari-Nya, hatimu jauh dari-Nya. Sudahkah kau selalu mengingat-Nya? Sudahkah kau bersyukur setiap saat pada-Nya?  Benarkah tangismu untuk-Nya? Lihat kembali kedalam hatimu nak, belum terlambat sungguh belum terlambat, tata-lah hatimu nak, temukan Dia dalam setiap langkah hidupmu, maka kau akan temui dirimu dalam kemantapan hati yang sesungguhnya. Bukan sekadar peminatan, tapi jalan hidupmu, kau masih ingat kan kata penulis itu bahwa keshalihan adalah seseorang yang melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya serta tahu bahwa apapun yang ia lakukan semata-mata untk beribadah padaNya.
Ingatlah setiap Nikmat-Nya dena n penuh kesyukuran maka niscaya langkahmu akan sangat ringan untuk kembali menata hati yang mulai goyah ini.

Ya Rabb,
Ku temukan diri ini dalam kebingungan yang nyata
Sungguh aku tahu apa yang menjadi penyebab-Nya
Karena hati ini mungkin saja sedang lapuk dan jauh dariMu

Ya Rabb, 
Bukakanlah hati ini, berikanlah hamba hidayahMu ya Rabb
Hamba tidak ingin apa yang hamba lakukan menjadi sia-sia
Hamba ingin menjadi orang yang mudah mengingatmu, ikhlas dalam mencintai-Mu dan menapaki setiap jalan hidup yang telah Engkau tetapkan atasku dengan penuh keikhlasan

Ya Rabb,
Liputilah hamba hanya dengan cinta-Mu dan berikanlah petunjuk apa yang yang terbaik untuk hamba
untuk setiap hal dalam hidup hamba, hamba ingin agar Engkaulah satu-satunya yang menjadi alasan ketika hamba harus memilih dan melakukan apapun dalam hidup ini

Ya Rabb,
Aku ingin mencintai-Mu, walau tak sempurna seperti kecintaan-Mu pada setiap hamba-Mu
walau terkadang aku tertatih namun aku akan terus berusaha untuk mencintai-Mu, ya aku akan terus berusaha semampuku....... T.T

Kata Bang Tere Liye, Fiksi Tetaplah Fiksi.....

Dinner Bareng Tere Liye

Jum'at, 24 mei 2013 (20.00 pm di salah satu rumah makan di Surabaya)

Malam itu adalah salah satu momen yang istimewa dan menyenangkan, bagaimana tidak perjuangan 3 bulan untuk menghadirkan pembicara ini sungguh sesuatu, well pada bagian ini saya gak mau bahas banyak tentang perjuangan 3 bulan itu,  nanti saja dibagian lain akan saya ceritakan panjang lebar.

Disini, ijinkan saya menceritakan salah satu momen spesial itu, saya dan ketiga teman saya yang tergabung dalam SC salahdalam satu event yang mendatangkan pembicara yang tulisan2x sedang digandrungi anak muda saat ini. Yupz, saya dan ketiga teman saya berkesempatan makan malam bersama sekaligus ngobrol secara langsung dengan bang Darwis Tere Liye. Udah pada tau kan? itu loh penulis tenar yg luar biasa banyak fans2x, bagaimana tidak bapak yang satu ini pandai mengocok-ngocok perasaan dengan tulisan-tulisan romansanya tapi juga penuh hikmah itu, 3 dari tulisan2 beliau bahkan sudah  di layar lebarkan. Istimewa, koq bisa ? Emang sih gak semeja sama pak presiden atau semeja sama suami, yang tentunya lebih spesial (uupss!!!). Tapi semeja sama orang yang tulisan2x menginspirasi juga momen yang gak boleh dilewatkan tuh........ :)

Suasana malam itu benar-benar hangat, bang Tere begitu sapaan akrabnya ternyata sangat bersahaja dan santai banget orangnya. Mudah akrab dan terlibatlah kami dalam percakapan ringan namun cukup memberikan makna mulai dari perkenalan masing-masing, asal daerah, sanpai alasan mengundang bang Tere dalam acara kami, dll.  Ne, beberapa gambaran percakapan yang saya ingat. Menurut beliau kita tidak boleh terlalu menganggap spesial orang hanya karena tulisan2x (dengan kata lain bapaknya mau bilang, beliau juga orang biasa, jadi biasa saja ). Menulis itu adalah sebuah passion, beliau juga bertanya apa ada yg bercita-cita menjadi dosen? Kemampuan menulis adalah sangatpenting jika ingin menjadi dosen, tak jadi dosen pun kita harus suka menulis, menulis apa saja, dari itu belajarlah untuk menulis walau sekadar nulis status atau curhatan di blog..:).
Penasaran dengan tulisan2 beliau, saya pun memberanikan diri bertanya:
Saya: Bang, kisah Hesti dan Tigor dalam "Sepotong Hati Yang Baru" itu kisah nyata atau bukan bang? (kisah Hesti dan Tigor buat saya termehek-mehek saat pertama kali membacanya atau memang dasar saya suka kisah yg menyayat hati dan menyentuh, tak sadar tau2 sudah basah saja pipi saat baca2 kisah seperti itu, Itulah saya... :)
Tere Liye:  Fiksi....

Kamis, 04 April 2013

Aku dan Danau Cinta

"Terdiam, bukanlah tanpa makna...
Menangis, bukanlah duka apalagi luka...
Sendiri, bukan berarti sepi...
Dan disini, ditempat ini aku hanya ingin menenangkan diri...
Membasuh pikiran yang mungkin keruh karena kebobrokan iman..
Melatih kepekaan hati yang selama ini tertutupi oleh bias kilauan dunia...
Membeningkan prasangka dan mencoba memaknai setiap hal yang terjadi dengan penuh kesyukuran..."

Aku suka tempat ini, sendiri berlama-lama entah hanya untuk membaca, membuat coretan tulisan, merenung, atau bahkan sekadar menikmati keindahan danau di pagi hari. Semilir angin, riak air yang tenang, suara angsa putih yang sesekali memecah ketenangan, deru kendaraan di jalan raya, serta awan putih yang melukis indah langit biru. Hmm...rasanya beban hilang seketika, ditambah dengan kehadiran ikan-ikan koi yang sesekali muncul ke permukaan danau. Semakin melengkapi keindahan danau di pagi hari menjelang siang ini.
Ujian tengah semester VI kali ini, nampaknya memang sedikit mengurangi aktivitas perkuliahan di kampus. Jam 10 pagi ujian sudah selesai dan biasanya teman-teman lebih memilih untuk pulang ke kos/kontrakan  masing-masing dan belajar ntuk persiapan ujian besok. Tetapi, aku lebih memilih disini, ya sebuah hobi baru yang kutemukan pasca ujian Metpen senin kemarin. Tidak pernah kubayangkan sebelumnya, kuhabiskan waktu 3,5 jam di danau hanya untuk membaca 4 Handout SE. Hobi ini pun berlanjut hingga hari ini dan  tulisan ini adalah salah satu saksi betapa aku menyukai tempat ini. Sebuah tempat yang menyenangkan baik untuk membaca, menulis, atau sekadar menikmati pemandangan di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya.

Kawan, ku beritahu spot tervaforitku di kampus, ialah Danau Cinta Kampus C Unair Surabaya... ^^